#########
Sivia masih betah menunggu alvin di taman depan sekolah.sampai saat ini,sivia belum menemukan tanda-tanda kedatangan cowok itu.
“dia bakalan datang gak ya?” sivia mulai pesimis karna ia tak kunjung melihat sosok alvin sejak dari pertemuan terakhir mereka di kantin tadi.
Tak lama kemudian,sebuah motor ninja hitam berhenti tepat di depan gadis berkulit putih tersebut.sang pengemudi pun melepaskan helmnya
“sorry telat,tadi gue ada sedikit urusan” alvin menjelaskan alasan keterlambatannya pada sivia
“lo minta di temanin kemana?”
“mmm...aku gak bisa kasih tau sekarang”
“terserah lo deh.ayok naik” alvin menyuruh sivia agar naik ke boncengan motornya
“mmm....alvin.eh, maksud aku kak alvin” katanya gugup
“gak usah dipaksain manggil gue kayak gitu kalau lo emang terpaksa.gue juga rada risih dengarnya, selama ini kan lo Cuma manggil nama gue tanpa pakai embel-embel kakak di depannya”
“tapi kalau kayak gitu kan gak sopan”
“benarkah?” alvin menatap binggung pada gadis di depannya
“kenapa baru sekarang? Kenapa gak dari dulu”
“mmm....itu karna.......”sivia mulai gelagapan.ia bingung harus memberi jawaban apa pada cowok itu.
“lupakan”
“hah?!” tanya sivia tak mengerti dengan ucapan alvin barusan
“lupakan kalau gue pernah nanya hal ini sama lo.bisa kita pergi sekarang?”
“gimana kalau kita perginya naik taksi aja?” tanya sivia hati-hati
“lo bercanda,gue bawa motor.kalau gue bawa motor,kenapa harus naik taksi.cepai naik!”
“tapi....kalau aku beri tau duluan kemana tujuan kita,kakak pasti akan menolak pergi.sebaiknya motor kakak kita tinggalkan saja dulu disekolah”
“gue gak mau!” tolak alvin
“mmmm....gimana kalau kita kerumah kakak dulu.nanti setelah dari sana,kita baru pergi naik taksi” alvin diam sejenak memikirkan usulan gadis itu
“ok” jawab alvin setuju dengan usul sivia.siviapun naik diboncengan motor alvin
Perjalanan dari sekolah kerumahnya kali ini dirasakan cukup mendebarkan bagi alvin.bagaimana tidak,sivia memeluknya dengan erat....bahkan terlalu erat
“oi,pegangan lo bisa di longgarin dikit gak? Sesak nih.”
“ngak bisa,ngak mau!” tolak sivia tegas
“heh? Kenapa sih? Sesak nih!” ujar alvin sambil memegang tangan sivia untuk melepas pegangannnya.tapi ternyata sivia berkeringat dingin
“kok lo keringat dingin sih? Lo sakit?”
“ngak...gue cuma takut.gue belum pernah naik motor! Ini pertama kalinya, mana kakak pakai acara ngebut lagi!”
“ngebut? Ini baru 60 km/jam!”
“itu udak kencang tau! Bisa lebih pelan gak kak?”
“ngak bisa! Gue pengen cepat sampai!”
“memangnya kenapa?”
“ah...ya....itu karna.....,” alvin gak tau mesti ngasih alasan apa ke sivia karna dia gak bakalan mau ngasih tau alasan sebenarnya ke gadis itu.alvin merasakan ada yang salah pada dirinya saat kedua tangan gadis itu melingkar erat di perutnya.entah mengapa,jantungnya berkerja lebih cepat dari biasanya.
“kok jadi gelagapan sih?”
“berisik! Pokoknya gue gak akan lebih pelan dari ini!”
“dih, kakak kenapa nyolot gitu sih!”
Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang dan tentunya cukup mendebarkan bagi alvin,akhirnya mereka sampai juga di rumah alvin.alvin segera memasukkan motornya ke garasi,lalu ia dan sivia segera meninggalkan rumahnya dengan menggunakan sebuah taksi.Di tengah perjalanan sivia menyuruh sang supir taksi untuk berhenti di sebuah toko bunga.
“eh, mau kemana lo?” tanya alvin saat sivia mulai turun dari taksi tersebut
“ada perlu bentar,lo tunggu disini aja ya kak” kata sivia tersenyum.sivia segera masuk ke dalam toko bunga tersebut.
Tak lama kemudian,sivia kembali kedalam taksi dengan bunga ditanganya.iapun memerintahkan kepada sang supir untuk segera jalan ke alamat yang sebelumnya telah ia kasih kepada sang supir melalui sebuah kertas agar alvin tak tau ke mana arah tujuan mereka
“untuk apa lo beli bunga segala?” tanya alvin bingung.bukannya menjawab pertanyaan dari alvin yang duduk disampingnya,sivia hanya tersenyum.hal itu semakin membuat alvin merasakan ada yang aneh dengan sikap gadis itu
Taksi tersebut segera berhenti disebuah pemakaman umum.setelah menyerahkan selembar uang seratus ribu,sivia segera menarik tangan alvin untuk turun dari mobil tersebut.taksi itupun segera pergi setelah kedua penumpangnya itu turun.
“ngapain kesini” kata alvin dingin sambil melirik tajam pada sivia.
“kalau lo mau ngelihat rumah terakhir yang akan lo tempati,kenapa mesti ngajak-ngajak gue hah!!!”
nyaris saja emosinya terpancing saat kata-kata dingin dan menyakitkan itu keluar dari mulut laki-laki disampingnya saat ini.Dengan senyuman yang susah payah ia ciptakan di bibirnya,sivia mulai bicara.
“ini merupakan proses untuk bisa mendapatkan kata maaf dari kak alvin.aku hanya melakukan apa yang kakak suruh waktu di rumah ify dulu. Apa kakak sekarang udah ingat?” sivia terus mempertahankan senyuman dibibirnya.
“jadi, bisakah kakak tunjukan yang mana...kuburannn....mmmm...tante gracia?” tanya sivia hati-hati
“lo yang punya urusan disini!!! Lo yang harus cari sendiri!!!! Kenapa harus minta bantuan gue!!!” bentak alvin pada sivia.ia segera pergi meninggalkan tempat pemakaman umun tersebut.sivia segera menyusul alvin,dengan kedua tangan yang ia rentangkan lebar-lebar,di halanginya langkah cowok itu
“kakak please....lo jangan bersikap kayak gini.lo kan undah janji mau memenuhi permintaan aku.tapi kenapa sekarang kakak ngingkari janji itu”
Alvin menghela nafas panjang mendengar ucapan sivia.akhirnya ia penuhi permintaan gadis itu “ikut gue!” alvin segera melangkah memasuki tempat pemakaman umun itu.sivia mengikutinya dari belakang dengan senyumannya yang merekah.senyuman yang membuat gadis itu semakin terlihat manis.
Alvin segera menghentikan langkahnya pada sebuah nisan yang terukir dengan jelas nama ibunya.sosok wanita yang telah membuat kehidupannya berubah drastis setelah kepergiannya menghadap sang pencipta.sivia segera meletakkan bunga segar yang sebelumnya telah ia beli, di atas makam tersebut.iapun mulai berjongkok di samping gundukan tanah yang didalamnya terbaring nyokapnya alvin yang sudah tak bernyawa.
“tante....via mita maaf ya sama tante.via udah jahat banget sama tante.mungkin di atas sana,tante mendengar semua kata-kata kasar via ke tante dulu.padahal via gak kenal sama tante,via juga gak pernah ketemu sama tante,tapi dengan gampangnyaa via nge-judge tante dengan kata-kata via yang gak pantes” kata gadis itu meminta maaf dengan air mata yang mengalir di kedua pipinya
Alvin tersentak saat di dapatinya gadis itu menangis meminta maaf di makam ibunya.apa yang dilihatnya sekarang,merupakan pemandangan yang tak pernah ia duga sebelumnya.entah mengapa,saat melihat air mata gadis itu jatuh diatas gundukan tanah tempat sang ibu terbaring tak bernyawa. Entah mengapa,ia bisa merasakan ketulusan di setiap ucapan maaf yang gadis itu ucapkan.
“mungkin tante gak mau maafin via atas apa yang via lakuin sama ify dan kak alvin. via udah nyakitin hati orang-orang yang paling tante sayangin.bahkan via udah tega buat ify nangis gara-gara ucapan via yang kasar ke dia.meskipun via udah jahat banget ke ify,tante dan kak alvin,tapi ify mau maafin via dan tetap nganggap via sebagai sahabatnya.kalau tante gak bisa maafin via,via bisa ngerti kok.tapi tante jangan benci sama via ya...kalau sampai detik ini via masih jadi sahabatnya ify.dan tante juga jangan marah ke ify karna sahabatan sama via.via mohonnn.....banget sama tante” kata gadis itu sambil menyentuh batu nisan pada kuburan tersebut.
“tante bilangin dong ke kak alvin, marah sama vianya jangan lama-lama.kan via gak tau masalahnya kak alvin selama ini.kalau via tau,via gak bakalan nyolot dan cari masalah terus sama dia.sebenarnya selamana ini,waktu via selalu bertengkar sama kak alvin,via takut banget.kak alvin itu kalau marah nyeremin banget mukanya.tapi karna terlanjur gengsi....ya via sok-sok berani di depan kak alvin.tante bantuin via dong buat buka pintu maafnya kak alvin untuk via”sivia terus melontarkan kata-kata lugu itu seakan-akan orang yang sedang ia bicarakan itu tak pernah ada di belakangnya
Alvin hanya tersenyum geli mendengar kata-kata yang keluar dari mulut gadis polos tersebut.perutnya seperti digelitik saat kata-kata permintaan maaf yanng terdengar tulus namun terkesan konyol itu terus terlontar di depan makam ibunya.dia bingung sekaligus takjub dengan keberanian cewek itu.bingung karna gadis itu seakan lupa pada dirinya yang masih berdiri di belakang tubuhnya,sehingga dengan gampangnya gadis itu membicarakan dirinya di depan makam sang ibu,sampai-sampai meminta bantuan mamanya untuk mau membujuk dirinya agar memaafkan kesalahan yang telah di perbuat oleh gadis itu.ia juga merasa takjub dengan keberanian gadis itu mengajaknya ke makam sang ibu untuk melakukan apa yang dulu pernah ia perintahkan pada gadis itu.
Setelah via menyelesaikan kalimat permintaan maafnya pada almarhum nyokapnya alvin,sivia menghapus air matanya dengan kedua tangannya
“jangan pakai tangan,kotor.pakai ini” alvin menyodorkan sapu tangannya pada gadis itu.sivia pun menerima sapu tangan pemberian alvin dan ia segera berdiri
“udah selesai acara tangis-tangisannya?” sivia hanya mengangguk malu mendengar pertanyaan alvin.
“kalau udah,cepat pergi dari sini” alvin memutar tubuhnya,lalu meninggalkan sivia yang masih berdiri di samping makam nyokapya alvin
Alvin dan sivia terus berjalan dengan pemandangan kiri-kanan yang dipenuhi gundukan-gundukan tanah kuburan
“hati-hati jangan sampai lo kesasar” kata alvin begitu sivia menyusulnya dengan nafas tersenggal-senggal
“can you slow down, please?” pinta sivia yang mulai kelelahan mengikuti kaki alvin yang berjalan cepat
“no” jawab alvin tegas
“jutek banget sih!”keluh sivia dengan muka dan nada kesal
“lo bilang apa?!” alvin menghentikan langkahnya dan menatap tajam pada sivia.
“ngak ada kok.kakak salah dengar kaliii” sivia segera mempercepat jalannya dan meninggalkan alvin yang masih menatap tajam ke arahnya
Saat mereka berdua sudah keluar dari areal pemakaman,sivia melihat sebuah cafe di sebrang jalan.
“eh, kak.liat itu...liat.disebrang jalan sana ada cafe” dengan antusiasnya, sivia menunjuk cafe yang ada disebrang jalan sana.alvin hanya melihat sivia dengan bingung.
“apa maksud lo?” alvin bertanya dengan nada suara yang masih terkesan dingin
“mmm........” sivia ngak tahu harus berbicara apa pada sosok yang masih saja terkesan jutek terhadap dirinya.suasana hening yang sempat tercipta diantara keduanya,segera terhapuskan saat alvin mendengar suara perut via yang mulai bernyanyi karna menahan lapar
“kalau suara perut lo itu gue ngerti.ayo!” kata alvin kemudian mengajak sivia ke cafe disebrang sana
Setelah selesai makan di cafe tersebut,sivia dan alvin kembali pulang bersama dengan menggunakan taksi.taksi itupun berhenti di depan pintu pagar rumah sivia.setelah mengucapkan salam permisahan dan rasa terima kasih pada alvin,sivia segera turun dari taksi,lalu menutup kembali pintu taksi tersebut
Saat sivia sedang berusaha membuka pintu pagar rumahnya yang terkunci,ada sebuah tangan yang memukul-mukul pelan bahunya dari belakang.saat ia berbalik untuk melihat si pemilik tangan tersebut,betapa kagetnya dia saat mendapati sosok alvin kini berdiri di hadapannya
“kak alvin?! Kok lo di...di...sini....?” tanya sivia kaget melihat alvin berdiri di depannya,sedangkan taksi yang mereka naiki tadi sudah pergi menjauh
“kenapa? Gak boleh gue disini?!”
“bu...bukan gitu.kenapa gak pulang dengan taksi tadi? Kenapa malah turun? Kalau kakak mau pulang,kakan harus jalan beberepa meter dari sini supaya bisa sampai ke jalan besar.disini gak ada taksi yang lewat.” Jawab sivia panik sekaligus bingung.Bukannya menjawab,alvin malah berjalan semakin dekat dengan sivia.sivia refleks berjalan mundur sampai langkahnya terhenti pada pagar rumahnya yang tadi belum berhasil ia buka.bukan hanya tubuh alvin yang semakin mendekat dengannya,tapi juga wajah cowok itu.sivia panik....ia tak tahu apa yang harus ia lakukan.dengan perasaan jantung yang semakin berdebar-debar,ditahannya perasaan aneh yang mengalir di darahnya dengan mata terpejam rapat.semakin lama,ia mulai dapat merasakan hembusan nafas cowok itu.
“ada noda hitam di bawah mata lo.mungkin saat lo menghapus air mata tadi,tanah yang ada di tangan lo,menempel disini” alvin segera menghapus noda hitam tersebut dengan tangannya.
“Muka lo kenapa merah gitu?” tanya alvin binggung. sivia segera membuka matanya dan diam setelah mendengar ucapan alvin barusan
“jadi......kakak bukannya mau nyium aku?” ceplos sivia dengan tampang yang masih shock
Alvin tersentak mendengar ucapan gadis itu “ lo mau gue ngelakuin itu? Baik,akan gue lakuin” alvin tersenyum jail pada gadis itu.kontan via melotot saat alvin bilang kalau ia akan melakukan apa yang baru saja di ucapkannya pada cowok itu.
Tampaknya alvin tak main-main dengan ucapannya.wajah cowok itu kembali mendekat.desahan nafas cowok itu dapat kembali ia rasakan.semua keadaan kembali pada saat pertama tadi,Cuma bedanya sekarang,sivia tak lagi menutup rapat kedua matanya seperti apa yang ia lakukan sebelumnya.
Cupppp......bibir alvin kini menempel di kening sivia.ia tak menyangka,cowok itu akan benar-benar menciumnya.sivia benar-benar shock,bahkan saat alvin melepaskan ciuman itu dari keningnya,sivia masih belum terlepas dari rasa kagetnya saat mendapatkan ciuman mendadak dari laki-laki itu
“gue udah maafin lo” kata alvin tersenyum di depan wajah sivia
“kenapa?! Kenapa kakak cium aku.aku bukan salah satu dari fans-fans kakak.kenapa bukan mereka yang kakak cium.kenapa harus aku? Kenapa ciuman itu kakak berikan ke aku?” ucap via lesu dengan kepala tertunduk
“bukannya lo tadi yang minta? Kenapa sekarang lo yang nanya?” wajah sivia kembali memanas mendengar perkataan alvin.
“tapi tadi itu aku shock karna tiba-tiba aja kakak mendekat ke aku.kenapa perkataan ngelantur aku itu kakak anggap serius sih?!!” kata sivia dengan suara yang cukup tinggi dan menatap wajah alvin yang berdiri di depannya
“benarkah? Maaf kalau gitu” ucap alvin datar.mati-matian sivia menahan rasa jengkelnya saat melihat wajah cowok itu.malah sivia ragu apakah permintaan maaf barusan itu benar-benar tulus? Karna ia tidak melihat ketulusan saat cowok itu mengucapkan maaf dengan ekspresi wajah yang terlihat datar.seolah-olah kecupan didahi tadi tak pernah terjadi sebelumnya
“udah berapa kali sih kakak ngelakuin hal ini?! Aku ini korban kakak yang keberapa hah?!” tanya sivia dengan nada membentak
“entahlah,gue gak ingat udah berapa kali gue ngelakuin hal itu.karna gue terlalu sering melakukannya,sehingga gue susah untuk mengingat jumlahnya.tapi yang gue ingat,elo cewek ke enam yang gue giniin” ucap alvin yang masih terlihat tenang
“sering?! Dan gue cewek ke enam yang lo kasih kecupan di dahi.....”sivia nyaris menjerit mendengar penuturan alvin
“iya, lo yang ke enam setelah nyokap gue,nyokap ify,oma gue,cece gue dan ify” setelah menyelesaikan kalimatnya,alvin berjalan menjauh dan segera pergi dari rumah sivia,meninggalkan gadis itu yang masih kaget mendengar jawaban yang ia berikan.
#########
Gabriel terus berdiri dalam diam.sejak sejam yang lalu ia sudah berada di salah satu toko buku yang terdapat dalam sebuah mall yang ia datangi saat ini.ia hanya berdiri di sudut pintu masuk toko dengan menatap tajam pada seorang gadis yang tadi datang bersamanya.
Shilla masih asik dengan kegiatannya yang tak jelas.dari awal ia datang ke toko buku tersebut,yang ia lakukan hanya berkeliling di toko itu.bahkan sudah beberapa pegawai toko tersebut menghampirinya.menanyakan apakah mereka bisa membantu gadis itu untuk menemukan buku yang ia cari,namun shilla menolak bantuan yang ditawarkan oleh pegawai-pegawai toko tersebut.entah apa yang ia cari,yang jelas ia merasa senang saat melihat tampang kesal dari wajah seorang laki-laki yang berdiri disudut pintu masuk toko itu.seperti ada kepuasan batin tersendiri setiap ia melihat ekspresi jengkel dan marah dari cowok tersebut
“gue capek berdiri gak nentu disini kayak orang begok!” desis cowok itu geram.langkah-langkah panjang iel menelan jarak yang tercipta antara dirinya dan shilla dengan begitu cepat.
“buku apa yang lo cari sampai perlu menghabiskan waktu segini lamanya hah?!”terdengar nada kesal saat pertanyaan itu terlontar dari mulut gabriel
“makanya bantuin gue nyari,jangan tiba-tiba ngomel kayak gini! Kayak emak-emak ya lo!”kata shilla sinis.
Gabriel segera pergi dari hadapan gadis itu dengan perasaan marah yang tertahan. Tidak lama kemudian gabriel kembali menghampiri shilla dengan membawa beberapa buku di tangannya.
“ini buku pada bagus-bagus.lo pilih salah satu.tapi kalau lo kebanyakan duit, beli aja semuanya.supaya lain kali lo gak ngerepotin gue lagi buat minta di temanin ke toko buku” gabriel menyerahkan semua buku-buku itu pada shilla dengan paksa.
“eh dengar ya.gue sama sekali gak pernah mau ditemanin atau minta temanin sama lo ke toko buku.gue terpaksa, T.E.R.P.A.K.S.A!!! paham?!” ucapnya emosi
“kalau masalah duit,lo gak usah khawatir.karna duit gue cukup buat beli semua buku-buku ini,malah lebih.tapi sayang,gue lagi gak butuh buku-buku pelajaran kayak gini.jadi waketos yang sok TAU......balikin gih ni buku-buku ke tempatnya” shilla mengembalikan buku-buku tersebut pada gabriel,lalu pergi dari hadapan cowok itu.
Gabriel mulai frustasi menghadapi sifat shilla yang kekanak-kanakan.sudah berkali-kali dia menyodorkan buku-buku yang ada di toko tersebut pada gadis itu,namun berkali-kali pula buku yang ia tawarkan ditolak dengan berbagai alsan yang tidak masuk akal.buku itu covernya tak menariklah,terlalu tebal lah,terlalu tipis lah,pengarangnya tak terkenal lah,inilah-itulah.dan alasan penolakan terakhir yang gadis itu katakan,benar-benar membuat iel ingin menjatuhkan gadis itu dari lantai teratas mall tersebut.bagaimana tidak,berkali-kali buku yang ia tawarkan ditolak,dan pada saat buku terakhir yang ia tawarkan, gadis itu berkata kalau ia suka buku tersebut dan ingin membelinya,namun sedetik kemudian ia bilang tidak suka dan batal membeli buku itu Cuma karna sampul plastik pada buku tersebut sedikit sobek.dan ia menganggap buku tersebut merupakan buku bekas, ia tidak mau membuang-buang uangnya hanya untuk membeli buku bekas.saat iel mengambil buku yang sama dengan kondisi yang benar-benar baik,tak ada lecet baik pada buku itu ataupun plastik yang membungkus buku itu,shilla kembali menolaknya karna ia sudah tidak tertarik lagi pada buku tersebut.
Kesal,marah namun pasrah.perasaan-perasaan itulah yang kini memenuhi hatinya.dengan asal-asalan ia mengambil sebuah buku dan langsung menyerahkannya pada gadis yang telah membuat kacau suasana hatinya hari ini.
“ini buku terakhir yang gue tawarin ke elo! Dan gue gak mau tau,lo harus beli buku ini dan secepatnya kita pergi dari sini” iel meletakkan dengan paksa buku itu di telapak tangan shilla,lalu ia berjalan ke arah pintu keluar
Mata shilla langsung terbelalak saat membaca judul buku yang diberikan gabriel barusan.”lo stress ya!!! Buat apa gue beli buku panduan senam hamil! Lo kira gue hamil apa?!!!!”teriakan gadis itu mencengangkan seisi toko tersebut.gabriel yang awalnya berjalan santai menuju pintu keluar,langsung diam ditempat begitu mendengar teriakan gadis bernama shilla tersebut.gabriel langsung pucat begitu melihat orang-orang yang ada di toko buku tersebut kini menatap tajam ke arahnya.dengan perasaan malu yang tak dapat disembunyikan lagi,iel pun menghampiri gadis tersebut
“eh, kalau ngomong bisa gak suara lo di pelanin dikittt aja! gak mesti teriak kayak gitu kan.lo pikir ini hutan apa!” kata gabriel dengan suara pelan
“orang-orangkan jadi ngira gue yang enggak-enggak! Pakai bilang-bilang hamil lagi”
“lo pikir lo aja yang malu,gue juga malu tauk.lagian lo yang salah,ngapain lo ngasih buku ini ke gue dan maksa gue buat beli!” kata shilla dengan suara yang tak kalah pelan dari gabriel.orang-orang yang ada di toko tersebut mulai berbisik-bisik sambil melirik tajam ke arah mereka.
“gue kan gak tau kalau buku yang gue ambil itu buku senam hamil” kata iel dengan suara yang masih pelan
“makanya kalau mau nawarin liat-liat dulu.lo punya mata kan? Dan lo bisa baca kan?”
“siapa suruh lo jadi cewek nyebelin banget.dari sekian banyak buku yang gue kasih,lo selalu nolak.jangan salahin gue dong kalau gini jadinya.lagian kalau lo gak teriak kayak tadi,orang-orang disini pasti gak natap kita kayak gini sekarang” dari sudut ekor matanya,iel terus melihat tatapan-tatapan mencemo’oh dari orang-orang tersebut
“ tadi gue refleks tau” shilla masih terus membela diri
“jadi sekarang gimana nih? Gue malu dan risih diliatin kayak gitu” keluh shilla
Dengan sigap,Iel menarik tangan shilla dan segera berlari ke pintu keluar.shilla yang tangannya ditarik oleh gabriel,hanya bisa pasrah ikut berlari bersama cowok itu dan melemparkan begitu saja buku terkutuk yang sudah membuatnya mendapatkan penilaian-penilaian negative dari setiap orang yang ada di toko buku itu.akhirnya mereka berdua berhasil lolos dari situasi yang sangat memalukan tersebut
“aaaa....semuanya gara-gara lo! karna kebodohan lo gue jadi nanggung malu dari kesalahan yang gak pernah gue perbuat dan gak pernah ada! Minta ma’af lo sama gue sekarang!” shilla menumpahkan semua kekesalannya pada gabriel
“apa lo bilang,gue mesti minta maaf ?! Gak salah ngomong lo.heh, gue juga nanggung malu ya karna kebodohan lo.kita berdua sama-sama salah disini.jadi kalau urusan minta ma’af ya harus sama-sama juga lah!”
“gue gak mau minta maaf sama lo!”
“kalau gitu gue juga gak mau minta maaf sama lo” ucap iel pada gadis itu.shilla mengerucutkan bibirnya dengan kesal saat mendengar ucapan iel barusan.
“gue laper,kita makan dulu disini” gabriel menunjuk sebuah cafe yang ada di hadapan mereka saat ini.seketika tubuh shilla membeku begitu melihat cafe yang ditunjuk oleh gabriel
“ayok masuk” ajak iel pada shilla
“gue gak mau makan disini.kita cari tempat lain aja” kata shilla dingin
“yang pegang komando tuh gue.jadi gue gak perlu dapet izin dari lo”ucapnya,santai tapi tandas.gabriel menarik tangan shilla masuk kedalam cafe tersebut
Sejak awal masuk ke cafe tersebut,shilla terus diam.hal ini pun menjadi tanda tanya tersendiri bagi gabriel.
“lo kenapa sih? Gue suruh pesan makanan/minuman yang lo suka,lo diam aja.gue pesenin lo air putih doang,lo juga diam.tumben gak protes” tanya gabriel bingung dengan kebungkaman shilla yang tiba-tiba.
“lo gak laper apa? Makanan gue aja udah hampir habis nih.yakin lo gak mau mesen sesuatu? gue yang traktir deh” tak ada jawaban dari shilla.ia masih tetap diam dengan kepala tertunduk.
“heh cewek jelek.gue lagi ngomong sama lo sekarang.liat gue dong,jangan yang lo liat lantai.kangen lo sama profesi lama lo sebagai OB?” gabriel mencoba memancing cewek itu untuk bicara,ya meski diakuinya kalau caranya ini agak-agak ekstrim.
“tumben gue ledekin dia diam aja.biasanya kan langsung maki-maki gue” batin iel
Saat seseorang menyanyi di cafe tersebut,spontan shilla mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk.dengan tatapan sayu,ia melihat orang yang menyanyi di cafe tersebut.iel mengarahkan pandangannya pada orang yang tengah ditatap shilla saat ini.iel mengkerutkan keningnya,ia tak mengerti dengan gadis bernama shilla tersebut.apa menariknya melihat laki-laki yang cukup tua menyanyi di cafe tersebut.menurutnya hal ini sudah biasa.kebanyakan setiap cafe yang ada dijakarta selalu memiliki penyanyi yang bertugas untuk menghibur setiap pelanggan yang datang ke cafe mereka.gabriel kembali menatap shilla dan ia kaget saat mendapati gadis itu sedang menangis.
Shilla berdiri dari tempat duduknya,lalu pergi meninggalkan gabriel begitu saja.dengan terburu-buru,iel segera mengeluarkan dompetnya dan meletakkan selembar uang seratus ribu di meja,kemudian ia segera pergi menyusul shilla.gabriel kehilangan jejak gadis itu.sekarang ia masih berkeliling mencari sosok gadis itu di mall tersebut.saat melewati arena permainan,gabriel melihat shilla disana.gadis itu sedang bermain pada salah satu mesin permainan yang ada disana.,iapun segera menghampiri gadis itu.
Tak tahan lagi dengan bayang-bayang masa lalu yang kembali menghantuinya,shillapun segera pergi dari cafe tersebut.meninggalkan gabriel yang tengah menatap heran akan sikapnya.kemana ia harus pergi? Entahlah, kedua kakinya menuntunnya kesebuah arena permainan yang ada di mall tersebut.ia segera menukarkan lembaran uang kertasnya untuk mendapatkan beberapa koin agar ia bisa memainkan mesin-mesin permainan yang ada disana.ia letakkan begitu saja tas selempangnya tidak jauh dari tempatnya berdiri.kini gadis itu berada pada sebuah permainan bola basket.saat beberapa koin ia masukkan ke dalam mesin tersebut,maka bola-bola basket pada permainan itu keluar.shilla melempar dengan kesal bola-bola tersebut pada ring yang tersedia pada mesin permainan itu.tak satupun lemparan-lemparan yang ia arahkan ke ring,masuk dengan sempurna
“ayo dong masuk! masa gak ada yang masuk sih! Nyebelin banget ni permainan” dengusnya kesal.ia kembali mencoba melempar bola-bola tersebut dengan kasarnya.orang-orang yang bermain tidak jauh dari shilla,hanya melihat permainan kasar gadis tersebut tanpa berkomentar apa-apa
“lo kenapa sih shill.Cuma masukin bola doang gak bisa.begok banget sih” umpat gadis itu pada dirinya sendiri.
“come on shill! Lo gak boleh lemah kayak gini” cepat-cepat gadis itu mengusap kedua matanya yang mulai berair
Shilla tak menyadari sosok gabriel yang kini berada dibelakangnya.gabriel mengangkat kedua alisnya saat ia meliahat sesuatu yang tercecer tidak begitu jauh dari tas sekolah milik shilla.sesuatu yang pernah membuat gadis itu benar-benar marah padanya.gabrielpun memungut benda tersebut lalu ia masukkan kedalam saku bajunnya.
Melihat kondisi gadis itu yang semakin kacau,gabrielpun berinisiatif untuk melakukan sesuatu.ia kemudian meraih tas milik shilla, ia sandang tas itu di bahu kirinya lalu menghampiri gadis tersebut. “ikut gue sekarang!” gabriel meraih pergelangan tangan kanan gadis itu,lalu menariknya pergi dari arena permainan.shilla hanya bisa pasrah saat tangannya ditarik dengan paksa oleh pemuda itu.
Matahari telah hilang dari peradaban,kini sosok itu siap digantikan oleh bulan dan ribuan bintang yang biasanya selalu menjadi latar langit di malam hari.lampu-lampu taman sudah mulai menyala,dan hanya segelintir orang saja yang masih betah untuk berada di taman tersebut.
Gabriel dan shilla terus diam sejak awal kedatangan mereka di taman itu.meskipun mereka duduk dibangku yang sama,tapi suasana dingin dan mencekam antara keduanya tak kunjung mencair.
“lo kenapa? Apa omongan gue di cafe tadi udah nyakitin perasaan lo? kalau ya,gue minta maaf” ucap gabriel sungguh-sungguh.
Saat mendengar perkataan iel,entah mengapa hatinya kembali sakit.bayangan-bayangan masa lalu yang telah menorehkan luka dihatinya,kembali mencuat.tembok pertahan diri yang sudah susah payah ia bangun,terasa akan hancur saat mendengar ucapan gabriel barusan.shilla kembali terpuruk dalam bayang-bayang masa lalu yang menyakitkan itu.shilla mengalihkan pandangannya,berusaha menyembunyikan air matanya yang siyap mengalir di pipinya.ia tak ingin cowok disampingnya itu melihat kelemahannya,kehancurannya.
Gabriel hanya terpaku melihat butiran-butiran bening yang mulai menggenangi mata gadis itu.sebenarnya gadis itu kenapa? Apakah dirinya melakukan kesalahan lagi? Seberapa fatal kesalahan yang ia perbuat sehingga bisa membuat gadis itu menangis.untuk kedua kalinya gabriel melihat air mata gadis itu,melihat sisi lain dari gadis bernama shilla tersebut.kini gabriel sadar, diri shilla yang selama ini ia kenal,bukanlah dirinya yang asli, itu semua hanya topeng...hanya sebuah kepalsuan.dirinya yang sebenarnya adalah yang ada dihadapan iel saat ini.ashilla zahrantiara,seorang gadis rapuh dengan penuh luka dihatinya.pribadi yang benar-benar berbeda dari apa yang ia perlihatkan selama ini.
Gabriel merengkuh shilla dalam pelukannya.namun gadis itu menolakknya. “lepasin gue!!! Lepasin gue!!! Lepasin gueeeee!!!!” shilla menjerit histeris.namun gabriel mengabaikan teriakan itu.
Dengan mengerahkan seluruh tenaga,shilla berusaha keras mengenyahkan lengan gabriel.namun kedua lengan itu tidak bisa disingkirkan dan mengurung shilla tanpa jalan keluar.
Kehabisan tenaga,shilla berhenti meronta.kini dia meringkuk diam dalam tangisnya.ia mencoba meredam tangisnya dengan satu tangan.
“menangislah,menangislah sampai lo puas.kalau lo udah capek nangis,maka pelukan ini akan lepas dengan sendirinya” kata-kata gabriel benar-benar membuat tangisan gadis itu pecah.ia menangis dalam pelukan cowok itu,menumpahkas segala rasa sakit yang ia rasakan dalam pelukan yang terasa hangat itu
Setelah iel merasa gadis itu sudah tenang,iapun melepaskan pelukannya.
“udah lega?” tanya iel.shilla menggelengkan kepalanya.
“belum?! Yaudah deh,sini gue peluk lagi”gabriel siap-siap untuk memeluk shilla kembali.namun gadis itu langsung menepis kedua lengan itu
“ngakk!!!”
“gue becanda doang kok,gak serius”
Shilla kembali diam,iel sudah kehabisan cara bagaimana caranya ngebuat gadis itu bisa melupakan kesedihannya.
“shill,gue mungkin emang gak tahu apa yang udah terjadi sama lo sampai-sampai lo kayak gini, tapi menurut gue lebih baik lo keluarkan semua yang lo rasakan dari pada menyimpannya terus di dalam hati” kata gabriel dengan sangat hati-hati.ia tidak ingin membuat suasana hati gadis itu kembali memburuk.Shilla mulai melihat ke arah gabriel dan mendengarkannya dengan air mata yang masih mengalir
“lo harus bicarakan masalah lo dengan seseorang” saran gabriel
“gue gak mau”
“gini ajadeh.lo keluarkan aja semua masalah lo,dan kalau lo gak mau gue tahu,baiklah.gue akan tutup kuping gue dengan ini” gabriel mengeluarkan headset miliknya dari saku celananya.shilla mengangkat kedua alisnya saat gabriel menunjukkan headset itu padanya.
“lo gak usah khawatir.gue gak akan dengar semua cerita lo,karna saat lo asik bercerita,gue juga akan asik dengan lagu-lagu di hp gue” kata gabriel tersenyum
“are you sure?” tanya shilla ragu
“yeah” jawab gabriel mantab,shilla tersenyum mendengar jawaban iel tersebut
Saat gabriel sudah memasang headset itu dikedua telinganya,shillapun mulai bercerita
“dulu gue pernah merasakan apa itu mencintai dan dicintai oleh seseorang,tapi itu dulu” ucapnya sedih
“gue benar-benar bahagia saat itu.gue berfikir hidup gue akan selalu bahagia karna gue memiliki laki-laki yang benar-benar tulus mencintai gue.tapi perasaan cinta gue untuk dia kemudian berubah menjadi mimpi buruk dan itu semua merupakan kesalahan terbesar dalam hidup gue.gue nungguin dia berjam-jam di sebuah cafe tempat dia pernah nembak gue karna sebelummnya kita udah janjian untuk merayakan 1 tahun jadian gue dan dia disana.gue terus nunggu dia sampai cafe itu tutup,tapi apa yang gue lakuin itu sia-sia,dia gak datang hari itu.saat itu gue benar-benar kecewa,marah, tapi gue coba untuk maafin dia karna gue benar-benar sayang sama dia.gue terus nunggu kabar dari dia,berkali-kali gue coba untuk ngehubungin dia,tapi hp nya selalu gak aktif.sampai saatnya gue sadar betapa bodohnya diri gue.udah 1 tahun gue pacaran sama dia,tapi gue gak tau apa-apa tentang dia,dimana rumahnya? Siapa orang tuanya? Siapa aja teman-temannya? Apakah dia anak tunggal atau bukan? Gue gak pernah tau semua itu.gue Cuma tau kalau dia sekolah di smp putra bangsa.gue rutuki semua kebodohan gue.torehan pertama rasa cinta itu begitu menyakitkan.mungkin karna gue udah membutakan seluruh hati gue.mungkin juga gue udah melepas semua pertahanan diri dan membayangkan hal-hal indah saat gue bersamanya,dan saat dia menghilang dari kehidupan gue, sebagian dari diri gue ikut menghilang bersamanya.gue ingin melupakan semua yang berhubungan dengan dia,tapi gue gagal.hati gue menolak untuk menghapus semua rasa cinta gue untuknya.cafe dimana lo maksa gue buat nemanin lo makan,itu adalah tempat awal gue menemui kebahagian bersamanya sekaligus menjadi tempat kehancuran cinta gue.lagu yang dinyanyikan oleh pegawai cafe tersebut,itu merupakan lagu yang sama saat dia nembak gue,lagu cinta pertama yang dia nyanyiin buat gue.simcard gue yang pernah lo buang,itu juga adalah pemberian terakhir dari dia.dari semua barang-barang pemberian dia,hanya benda kecil itu yang gak bisa gue musnahin dari hidup gue.benda itu selalu memberi gue harapan.
“oooo...jadi kartu ini dari cowok lo.pantesan lo marah banget waktu gue ngebuang kartu ini.ternyata benda ini pemberian dia yang terakhir ya?” tanya gabriel dengan tampang tak bersalah sambil mengeluarkan simcard yang ada di saku bajunya,benda kecil itu berada dalam plastik putih berukuran kecil
“tapi kenapa sekarang kartu ini terbelah menjadi 2?” shilla kaget saat iel melontarkan pertanyaan itu.ia langsung merebut headset yang terpasang di kedua telinga gabriel. Salah satu headset itu kemudian ia pasangkan di telinganya sendiri
“apa-apaan ini.gue gak dengar apa-apa!” tanya shilla ketus
Gabriel hanya terkekeh mendengar pertanyaan shilla sambil mengaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tak terasa gatal. “hehehehe....hp gue mati” katanya sambil menunjukkan hp nya yang sudah mati
“berarti lo ngedengerin semua cerita gue tadi?!” ia kembali bertanya sambil menahan rasa malu bercampur marah.iel hanya mengangguk pelan, merasa tak enak hati karna telah membohongi gadis itu
“lo gimana sih,gak konsisten banget sama ucapan lo! lo kan udah bilang kalau lo gak bakalan bisa dengar cerita gue,tapi sekarang lo udah tau semuanya.nyebalin banget sih lo!” shilla melemparkan tinjunya sekuat tenaga ke lengan gabriel
“aww!!! Gue kan gak tau kalau hp gue bakalan mati saat lo mulai cerita tadi,sorry deh”
“sampai lo berlutut minta maaf dikaki gue,gue juga gak bisa maksa lo buat lupain apa yang udah lo dengar tadi”
“gue gak akan ngelakuin hal itu kok.terus apa yang terjadi sama kartu ini sampai terbelah dua kayak gini?” iel bertanya dengan hati-hati.
Shilla menarik nafas panjang lalu menghembuskannya saat mendengar pertanyaan iel tentang simcard yang telah rusak itu. “kenangan menyakitkan itu gak sepenuhnya bisa gue lupain.dan saat gue teringat kembali akan masa lalu itu,gue emosi,marah,sedih.tanpa pikir panjang gue hancurin semua barang-barang yang pernah dia kasih ke gue.karna yang tersisa Cuma simcard itu, gue langsung kalap,lalu gue jadiin simcard itu pelampiasan kemarahan gue.setelah emosi gue reda,gue jadi nyesal.sekarang satu-satunya kenangan dari dia udah rusak” shilla menatap sedih simcard yang iel tunjukkan kepadanya.
“yang dilakukan telah dilakukan,tidak perlu berbicara tentang masa lalu.lo hanya perlu bergerak maju melihat kedepan dan jangan terperangkap dalam kesedihan masa lalu.terimalah kenyataan,cinta lo yang dulu telah pergi.lo gak mungkin terus hidup dengan dihantui bayangan-bayangan masa lalu,karna itu akan sangat merepotkan”
Shilla tertawa kecil melihat keseriusan wajah gabriel dalam mengucapkan kata-kata itu.diambilnya simcard yang ada di tangan gabriel,lalu dibuangnya ke tempat sampah yang tak jauh dari tempat ia duduk.
“thanks for all.sorry, i don’t believe you before” kata shilla dengan malu
“It’s ok”
“you haven’t tell your story” kata shilla menepuk lengan gabriel
“what story?” tanya gabriel bingung
“your love story” kata shilla sambil menggambar sebuah hati di udara
“no.I will not tell you” tolak gabriel dengan tersipu
“lo curang.tadikan lo udah dengar cerita cinta gue,sekarang giliran lo dong.kalau lo gak mau cerita,jangan salahkan gue kalau gue teriak disini. semua orang yang ada disini bakalan ngira kalau lo ngapa-ngapain gue” kata shilla tersenyum jail
“ok” kata gabriel cepat.shilla tersenyum puas mendengar jawaban iel
“I’m listening” kata shilla semangat
“gue gak pernah pacaran.puas lo!” kata iel dengan muka yang memerah menahan malu
“what!!! Gak mungkin.lo pasti bohongin gue” kata shilla tak percaya
“terserah lo mau percaya atau ngak.yang penting gue udah bicara jujur sama lo”
“lo serius?” tanya shilla memastikan.tak ada jawaban dari iel.
“hahahahaha....kok bisa sih,kenapa? lo gak laku-laku ya? Atau lo emang gak normal? Pantesan gue merasa ada yang salah dari diri lo.ternyata waketos yang satu ini masih polos toh ceritanya? Hahahaha.....”shilla terus tertawa sambil meledek iel, dan itu sukses membuat muka iel memerah kayak kepiting rebus karna malu
“sialan!” desisnya
“gue bukannya gak laku atau gak normal ya.gue cowok tulen 100%.memang gue belum nemu cewek yang pas aja di hati gue.lagian bukan gue aja yang belum pernah pacaran.rio alvin juga sama kayak gue” gabriel keceplosan.tanpa disengaja ia juga membuka aib sobat-sobatnya itu
“apa lo bilang? Kak rio sama kak alvin juga belum pernah pacaran?!” tanya shilla kaget Hahahahahahaha.........ternyata kalian parah banget ya, hahahahaha.......” shilla memegangi perutnya yang sakit karna tawanya yang berlebihan
“mampus gue.bisa dibunuh gue kalau mereka sampai tau hal ini! Kiamat! Kiamat! Kiamattttt!!!!” gerutu iel dalam hati
“eh ngomong-ngomong kalian bertiga kok beda sih sama kak cakka.secara kalau kak cakka kan urusan cewek dia rajanya.nah kaliannnn.....gak pernah punya pengalaman sedikitpun tentang cewek”
“cewek itu ribet,gue,alvin ataupun rio gak mau mereka repotin kalau nanti kita-kita udah pacaran sama mereka.awal-awalnya aja mereka bersikap manis,tapi kalau mereka udah merasa miliki gue,mereka berubah jadi sangar,kalau gak dituruti kemauannya,mereka bakalan marah,terus ujung-ujungnya ngambekan,kekanak-kanakan banget” Jelas iel panjang lebar.shilla menatap bingung mendengar penjelasan gabriel
“gue tau itu,karna liat pengalamannya cakka.” Jawab iel seakan tau apa arti tatapan bingung gadis itu
“lagian cakka gak pernah kok nembak cewek-cewek itu.mereka yang selalu mengubar-ngubar cinta mereka ke cakka”
“tapi diakan gak pernah nolak saat cewek-cewek itu minta dia untuk jadi pacar mereka kan? Kalau gitu kan dia sama aja kayak cowok-cowok idung belang lainnya
“gue akui sikap yang diambil cakka itu memang salah,tapi dia juga gak punya alasan untuk menolak rasa sayang yang dimiliki cewek-cewek itu untuknya.dan akhirnya,cewek-cewek itu yang mundur dengan sendirinya dari sisi cakka dan memutuskan berhenti menyayanginya.karna mereka sadar,cakka sama sekali gak perna cinta sama mereka.jadi walaupun tu anak ceweknya ada dimana-mana,tapi dia sama aja kayak gue,alvin ataupun rio.dia gak pernah benar-benar suka ataupun mencintai seorang cewek”
“jadi kak cakka itu sama sekali bukan penjahat wanita?”
“penjahat wanita? Itu julukan lo buat dia? Sadis banget lo ngasih nama buat sobat gue”
“eh bukan gue,tapi agni”
“agni? Ada-ada aja tu cewek.banyak banget julukan yang dia kasih buat cakka” ucap gabriel tersenyum
“udah malam nih,ayok gue antar lo pulang”
“siap anak kecil” ledek shilla
“siapa yang anak kecil?” tanya iel polos
“elo lah.lo itu si yayang nya mami yang masih polos.masa udah kelas dua sma, pacaran aja belum pernah.hahahaha.......” iel hanya berdecak kesal saat shilla meledeknya dengan panggilan masa kecilnya itu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar